Minangkabau

MANANGKABAU, OH… MINANGKABAU !!!

Mochtar Naim

6 Okt 2015

SAMPAI saat ini tidak ada dari kita ini yang tahu persis apa arti sesunguhnya dari nama atau kata “Minangkabau” itu. Kita tahu bahwa “kabau” itu “kerbau”. Tapi “minang”? Macam-macamlah arti dan makna yang keluar. Yang mengaitkan kata Minangkabau itu dengan peraduan kerbau besar Jawa dengan anak kerbau yang sedang erat menyusu yang sengaja dibikin tidak diberi susu oleh induknya selama beberapa hari, lalu dilepas di medan laga, dan mengejar kerbau jantan besar dari Jawa itu, yang dikira induknya, lalu menyerunduk masuk ke bawah perut kerbau besar itu mencari putingnya, dan karena itu kerbau besar itu tersungkur jatuh tergelepak. Rupanya kiat si orang Minang yang tahu kerbaunya tidak akan menang, dipasangkanlah tusukan jarum di tempat tanduk anak kerbau yang akan tumbuh itu. Maka diluar dugaan orang-orang Jawa yang hadir menyaksikan, yang justeru kerbau mereka yang jatuh tersungkur, semua orang Minang yang ikut menyaksikan di medan laga itu pada langsung berteriak bersorak beramai-ramai: Manang kabau (awak), manang kabau (awak).

Tapi itu kan “manang,” bukan “minang.”  Jelas tidak terjawab. Dan rasanya hanya legenda pengenakkan cerita belaka, yang sekaligus juga memperlihatkan bahwa dikotomi antara M dan J sudah bermula sejak M itu ada.

Lalu ada pula analisa dari Datuk Soda yang mengatakan bahwa dekat Pagaruyung itu ada nagari yang bernama Minangkabau. Kabau itu kerbau. Minang itu “air” sungai yang mengalir di nagari Minangkabau itu.

Tapi kecuali Dt Soda dan orang Minangkabau dekat Pagaruyung itu praktis tidak ada orang Minang lainnya dan dari manapun yang tahu bahwa minang itu artinya air. Jelas juga tidak pas.

Lalu ada lagi sekian banyak legenda-legenda lain-lainnya yang menjelaskan arti minangkabau itu, yang rasanya tidak perlulah dijelaskan di sini satu per satu karena saking bervariasinya, dan karena semua itu hanya cerita legenda belaka.

Lepas dari apakah arti yang sesungguhnya dari kata Minangkabau itu, kita dihadapkan pada sebuah fakta sosial dan budaya yang orang Minang itu ternyata menganut sistem kekeluargaan ‘matrilineal’ yang bukan matriarkal dan bukan pula patrilineal ataupun parental, yang jarang ada di bagian Nusantara lainnya, bahkan di Asia Tenggara dan malah di dunia ini. Kendati garis keturunan adalah melalui jalur garis keturunan ibu, tetapi sistem kekuasaan dalam keluarga, kaum, suku, kampung dan nagari, tetap ada di tangan laki-laki yang berperan sebagai ‘mamak.’ Yang mamak ini juga terbagi lagi ke dalam sistem kepemimpinan triumvirat yang berbentuk Tiga Sejoli: “Tali nan Tigo Sapilin, Tungku nan Tigo Sajarangan,” yaitu ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai.

Ketika Islam masuk ke Minangkabau, sintesa Islam dan Minang segera terwujud, karena kendati matrilineal, yang dengan itu  menghargai tinggi nilai kedudukan ibu atau wanita dalam keluarga, dia adalah patriarkal, yang laki-laki tetap adalah penguasa dalam kaum, suku, kampung dan nagari itu. Wanita dihargai tinggi yang dengan itu semua harta kekayaan bersama diberikan pemanfaatannya kepada wanita atau ibu itu. Dan ibu adalah ‘bundo kanduang’ yang menjadi limpapeh rumah nan gadang. Ide penghargaan tinggi kepada wanita ini cocok dan sejalan pula dengan ajaran Islam yang menempatkan ibu atau wanita di tempat yang sangat terhormat. Rasulullah sendiri sampai tiga kali mengulangi jawaban yang sama dari pertanyaan, siapa sewajarnya yang paling dihormati, yang jawabannya itu adalah sama: ibumu, ibumu, ibumu. Dan surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.

Sintesa yang berjalin antara adat Minang dan syarak Islam ini kemudian lalu dibuhul dalam paradigma ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah), di mana Adat terletak di bawah Syarak, dan Syarak di bawah naungan Kitabullah al Qur’anul Karim. Konsekuensinya, adat yang sejalan dengan syarak dipakai, yang tak sejalan, dibuang. Yang terjadi lalu adalah sintesisme antara adat dan syarak, bukan sinkretisme yang menempatkan keduanya, seperti di Jawa, sebagai sama dan setara. Di Jawa malah dikatakan: “Sadaya agami sami kemawon” (Semua agama sebagai sama semua), sehingga orang Jawa bisa dan biasa memilih agama manapun yang mereka sukai, sehingga dalam satu keluarga pun agamanya bisa macam-macam dan bisa ganti dari satu agama ke agama lainnya. Di Minang, yang murtad dan memilih agama selain Islam harus keluar dari Minang dan keluarga Minang. Tiada tempat bagi yang keluar dari Islam. Dan ini final!

Dari jalinan adat dan syarak yang sifatnya sintetikal ini, sekaligus juga memberi peluang kepada unsur budaya dari manapun datangnya, baik dari Timur maupun dari Barat, dahulu, sekarang maupun yang akan datang, untuk masuk ke dalam budaya Minang ini yang sifatnya juga sintetikal dengan paradigma budaya ABS-SBK itu. Ada ungkapan yang mengatakan: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina sekalipun,” sementara Al Qur’an  mengajarkan: “Sîrû fil ardh, Berjalanlah kamu di muka bumi ini.”

Sejalan dengan itu, adat Minang pun menyuruh anak mudanya untuk pergi merantau ke manapun untuk mendapatkan ilmu, kekayaan dan pengalaman. Karenanya orang Minang sekarang ini ada di mana-mana, sampai ke Eropah, Amerika, Australia, Asia lainnya, selain di bumi Nusantara sendiri. Sikap budaya yang universalistik ini sendirinya juga memperkaya wawasan cara hidup dan cara berfikir orang Minang, seperti yang diperlihatkan contohnya oleh para peneruka budaya Minang yang namanya terpampang sebagai tokoh-tokoh terkemuka para pemimpin bangsa di tanah air milik bersama ini.

Dari semua itu, kesimpulannya tidak lain, marilah kita kembali secara sadar memanfaatkan  budaya Minangkabau yang merupakan jalinan antara adat dan syarak yang sifatnya luas dan terbuka itu sambil sekaligus kembali menjadi panutan bagi bangsa di tanah air tercinta ini dan di dunia Melayu umumnya.

Dengan DIM (Daerah Istimewa Minangkabau) yang berbasis paradigma ABS-SBK itu kita siapkan diri untuk mengejar segala ketinggalan kita dengan membangun masa depan yang jaya dan bahagia. Semoga semuanya terwujud menjadi kenyataan.

Âmîn, yâ mujîbas sâilîn. ***
Visit Your Group

.

__,_._,___

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: