Umat Islam Dihimbau Beralih ke Waktu Makkah, Menggantikan Waktu Greenwich

Assalamulaikum WW

Pak Zaenal dan Temans

Saya ingin menanggapi dengan logika astromi. Untuk menentukan pusat bumi itu berdasarkan apa ya? Kalau pusat peredaran bumi dalam berotasi tentu adalah pusat bola bumi itu sendiri Pusat bola ya terletak ditengah-tengah bola itu sendiri.

Kemudian bumi juga mempunyai 2 kutub, yaitu kutub utara dan selatan. Kutub adalah garis tembus sumbu perputaran bumi dengan kulit bumi. Kemudian adalagi 2 kutub magnetic bumi yang terletak di Alaska dan antartika.

Greenwhich adalah kota yang diambil sebagai salah satu kota yang dilalui bujur Nol. Ini berdasarkan kesepakatan saja. Setiap 15 derajat ke Timur disebut bujur timur yaitu 1 Р180 derajat Bujur Timur. Sebaliknya setiap 15 derajat ke Barat disebut Bujur Barat (1 Р180 BB). Dimana  garis 180 derajat menjadi satu, sebab keliling lingkaran adalah 360 derajat.

Kemudian melalui bujur 180 derajat dan dibuat menyimpang dibeberapa tempat dengan alasan satu kesatuan masyarakat (negara, atau negara bagian) ditetapkan jadi garis batas tanggal internasional. Dalam waktu yang bersamaan, biar sama matahari diatas kepala sekalipun, maka yang berada di Timur Garis bujur (GB) 180 adalah hari hari dan tanggal sebelum hari dan tanggal yang berada di Barat garis bujur 180 derajat. Misalnya disebelah Timur masih ahri Rabu 23 April 2008, tapi disebelah Barat telah berubah jadi hari Kamis 24 April 2008. Setiap anda melintasi GB 180 maka hari dan tanggal anda dirubah satu hari. Melintas ke Timur hari dan tanggalnya mundur dan ke Barat hari dan tanggalnya bertambah (maju).

Disinilah sering kita salah anggapan, kenapa di Mekah sudah lebaran, kok di Indonesia belum. Sebab pertanggalan Hijriah berdasarkan perjalanan bulan, dimana peredaran semu bulan mempunyai percepatan dibanding peredaran semu matahari terhadap bumi (kenyataan yang dilihat kasat mata). Bila ijtima’ awal Sayawal dicapai bulan berada disebelah Barat dari Indonesia, maka Awal syawal akan mulai di Mekah lebih dulu dari di Indonesia. kita terbiasa menganggap harinya sama, sebab hari dan tanggal telah berubah di Pacific Sana. Jika hari dan tanggal berubah berdasarkan Ijtima’ awal bulan hijriah, maka akan kesulitan, sebab tidak tetap dan tidak tepat tengah malam (matahari).

Sekarang mau merubah garis bujur nol menjadi melewati kota Mekah (kalau lintang nol tidak mungkin, karena mekah tidak terletak di khatulistiwa), maka menurut teori mungkin saja dengan alasan Mekah sebagai pusat Kiblat umat Islam.

Tapi, ini akan memerlukan upaya yang besar serta sosilisasi yang bukan main sulit dan berbiaya besar. Sebab semua buku ilmu pengetahuan dan program komputer yang ada saat ini telah tertulis dan memakai logika GB nol melewati Greenwhich.

Orang kantor pindah alamat saja telah berbiaya besar, karena harus mengganti semua kop surat dan header di surat elektronic, disamping biaya sosilisasi ke client dan calon client.

Jadi, berapa besar uapaya dan biaya yang diperlukan untuk memindah garis bujur nol tersebut? Harus meriset semua komputer dan merevisi semua buku dan meriset semua logika astronomi dan banyak lagi yang lain.

Kemudian apa untung nyata yang dapat diambil dari perpindahan GB nol ini, belum jelas, selain gengsi dan harga diri.

Toh yang dilewati garis bujur Nol tersebut bukan saja Greenwich, garis bujur membentang dari kutub Utara sampai kutub Selatan bukan?

Apa ini tidak membuat logika umat manusia akan berfikir ulang, berfikir ulang demi Islam. Bagaimana nanti orang menilai Islam itu dari kaca mereka. Tentu akan positif dan negatif.

Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan

Wassalam WW
Darul Makmur

Umat Islam Dihimbau Beralih ke Waktu Makkah, Menggantikan Waktu Greenwich

Sejumlah pakar Islam di bidang geologi dan ilmu syariah mulai mengkampanyekan persamaan waktu dunia dengan merujuk waktu Makkah al Mukarramah. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengganti persamaan waktu Greenwich yang selama ini digunakan banyak penduduk dunia. Karena menurut sejumlah kajian ilmiah, Makkah-lah yang menjadi pusat bumi. Persoalan ini mencuat dalam Konferensi Ilmiah bertajuk Makkah Sebagai Pusat Bumi, antara Teori dan Praktek.

Konferensi yang diselenggarakan di ibukota Qatar, Dhoha pada Sabtu (19/4), menyimpulkan tentang acuan waktu Islam berdasarkan kajian ilmiah yakni Makkah, dan menyerukan umat Islam agar mengganti acuan waktu dunia yang selama ini merujuk pada Greenwich. Makkah Mukarramah dinyatakan sebagai kiblat umat Islam di seluruh dunia, dan di sekeliling Ka`bah yang ada di Makkah, berkeliling kaum muslimin yang melakukan Thawaf dari kiri ke kanan, ke balikan dari acuan waktu Greenwich dari kanan ke kiri.

Dalam konferensi yang juga dihadiri oleh Syaikh DR. Yusuf Al-Qaradhawi dan juga sejumlah pakar geologi Mesir seperti DR. Zaglul Najjar yang juga dosen ilmu bumi di Wales University di Inggris serta Ir Yaseen Shaok, seorang saintis yang mempelopori jam Makkah.
DR. Qaradhawi dalam kesempatan itu menyampaikan dukungannya agar umat Islam dan juga dunia menggunakan acuan waktu ke Makkah sebagai acuan waktu yang sejati, karena Makkah adalah pusat bumi.

Dalam sambutannya di awal konferensi ini, ia menjelaskan juga mengapa Makkah dipilih sebagai pusat bagi bumi dan kenapa Allah SWT menjadikan Baitul Haram sebagai kiblat bagi umat Islam. Qaradhawi yang juga ketua Asosiasi Ulama Islam Internasional itu mengatakan, “Kami menyambut kajian ilmiah dengan hasil yang menegaskan kemuliaan kiblat umat Islam. Meneguhkan lagi teori bahwa Makkah merupakan pusat bumi adalah sama dengan penegasan jati diri ke-Islaman dan menopang kemuliaan umat Islam atas agama, umat dan peradabannya”. DR. Qaradhawi juga menyampaikan bahwa tidak ada pertentangan dalam Islam antara ilmu dan agama sebagaimana yang terjadi di agama dan peradaban lain.

Terkait Makkah sebagai pusat bumi, DR. Zaglul Najjar mengatakan bahwa hal itu memang benar berdasarkan penelitian saintifik yang dilakukan oleh DR. Husain Kamaluddin bahwa ternyata Makkah Mukarramah memang menjadi titik pusat bumi. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center yang berpusat di Kairo itu, melukiskan peta dunia baru, yang dapat menunjukkan arah Makkah dari kota-kota lain di dunia. Dengan menggunakan perkiraan matematik dan kaidah yang disebut “spherical triangle” Prof. Husein menyimpulkan kedudukan Makkah betul-betul berada di tengah-tengah daratan bumi. Sekaligus membuktikan bahwa bumi ini berkembang dari Makkah. (na-str/iol)

sumber : http://www.eramuslim.com

1 comment so far

  1. mochamad tohirun on

    mmg mnrik mgkaji psat wkt dunia,tdk hny mslh jam tp jg hr lbr yg sdh shrsny umat islam pny cara trsendiri. hal ni tntu sngt brkaitan dgn kgiatan muamalah mpun ibadah. kta slm ni mgacu pd klndr masehi n wkt grnwch(yg dbuat non mslim..sbut sj KRisten n Yahudi) meliburkn pkrjan hr mggu(bt misa grja) sabtu(hr sabat) yg intiny bwt ibdah..smntr umat islam tdk bs mlkukan hal yg sama(jumat) tuk lbr krja demi ibadah…ini urgensiny pnrapan klnder n wkt ISLAM(dg acuan makkah) sbg jaminan ktpatan wkt shalat n pryaan hr raya… susah memang dlm plksnaan nyata krn hrs mgubah ‘tradisi global’ itu…but nothing impossible if we think POSSIBLE!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: