Adib in Politics

(Serbuan politik bisnis, politik office, politik praktis sampai politik milist)
Para profesional dan level manager sering dihadapkan pada pusingnya bagaimana menghadapi politik office yang berlaku di kantor, sehingga dalam sebuah meeting formal maupun informal sering sekali menguras energi dalam menghadapi serbuan politik office ketimbang menguras energi untuk brainstorming dalam menghadapi masalah yang sebenarnya.

Demikian juga dalam dunia bisnis, kita juga dihadapkan pada politik bisnis yang sedemikian kompleksnya, tidak kalah ribet dengan politik praktis yang berasaskan teori kepentingan. Namun yang saya pelajari dari A Ming di China dalam mengolah politik bisnis adalah dengan cara do it dan duit. Sangat simple sekali, karena memang di China do it dan duit memang benar-benar menjadi tujuan utama mereka dalam kehidupan.

Sehingga tidak ada basa-basi, tidak melibatkan rasa gengsi, dan menghalus-haluskan situasi dan kondisi yang sebenarnya tujuan akhirnya adalah UUD (ujung-ujungnya duit). Yang saya tangkap tujuan hidup A Ming dan sebagian besar orang China itu jelas bahwa hidup untuk bisa senang harus cari duit dan do it.

Sedangkan kita dihadapkan pada persoalan mind set yang lumayan rumit, sehingga dalam berbisnispun tujuan kita njlimet, basa-basi, dan menghalus-haluskan situasi dan kondisi, yang sebenarnya UUD juga (ujung-ujungnya duit), masih mending kalau do it kita bagus, malah kadang do it kita juga kurang optimal.

Wajarlah jika politik bisnis kita tidak jauh beda dengan dunia politik praktis, karena hampir rata-rata mind set kita juga berasal dari sumber yang sama, penuh basa-basi dan mempolitisir situasi dan keadaan. Rakyat miskin selalu menjadi ajang komoditas politik praktis ketika sedang terjadi pemilu, tiba-tiba tokohnya menjadi merakyat dan manis dengan rakyat, namun ketika sudah duduk di kursi empuk semuanya menjadi hilang ingatan terhadap apa yang dijanjikan sewaktu pemilu.

Jadi yang bisa saya pelajari dari A Ming di China adalah mudahnya politik bisnis dengan tujuan yang jelas, jika kita mampu memanage duit, maka mereka akan benar-benar do it. Sebab prinsip bisnis is bisnis berlaku dalam politik bisnis, seperti prinsip kepentingan juga berlaku dalam dunia politik praktis.

Hal kedua yang bisa saya pelajari dari A Ming adalah bahwa saya harus hati-hati dengan para broker dan reseller di China, karena di China banyak sekali broker dan reseller yang mengaku-aku sebagai owner pabrik, owner produk dan owner perusahaan. Untuk pelajaran kedua ini sih saya sudah terbiasa menghadapinya di Indonesia, karena saya sudah pernah diajarin juga di sebuah kelas seminar bisnis di Indonesia agar sukses menjadi broker dan reseller dengan mensiasati properti orang lain, duit orang lain, ruko orang lain, produk orang lain dan perusahaan orang lain, sehingga saya tidak kaget dengan politik bisnis yang sedang saya hadapi di China.

Dan dalam dunia milistpun berlaku politik milist, dalam tulisan-tulisannya politik milist yang saya maksud adalah, ada penulis yang mempolitisir situasi dan keadaan, ada yang basa-basi, ada yang malu-malu, ada yang oportunis dan ada yang idealisme. Ada penulis yang mempolitisir tulisannya dengan bungkus yang sedemikian rapi dan halus, sehingga ada member milist yang membaca tidak sadar kalau sedang masuk perangkap atau memang sengaja masuk perangkapnya, setelah benar-benar terjerat barulah digelar dagangannya.

Betapa kita setiap hari selalu dihadapkan pada politik office, politik bisnis, politik praktis dan politik milist yang sedemikian canggihnya dengan cara yang tepat dalam mengkomunikasikannya, lalu akankah kita akan selalu begitu..?, dihadapkan pada ribetnya menghadapi politik-politik tersebut. Padahal kita masih kurang do it dalam mencari duit, karena kita terjebak dalam permainan politik, bukan bermain dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Mudah-mudahan pribadi dan milist yang populis akan tetap duduk lesehan dipelataran kesederhanaan (mampu menjaga core values dan core purposenya), ditengah gencarnya media yang manis mempromosikan personal brand dan milist, yang akhirnya personal dan milist tersebut menjadi elitis duduk di kursi empuk menikmati kemenangan permainan politiknya.

Dan mudah-mudahan kita semakin sadar bahwa bisnis is bisnis yang membutuhkan do it dan duit, sehingga kita betul-betul mempunyai kesadaran bahwa duit dan do it hanyalah sebagai alat yang jelas untuk mencapai tujuan dan kita terbebas dari politik-politik yang dikemas dengan cara yang tepat, saat yang tepat dan disampaikan kepada orang yang tepat.

Salam,

Adib M

1 comment so far

  1. […] Darulmakmur’s Weblog wrote an interesting post today on Adib in PoliticsHere’s a quick excerpt … aya tidak kaget dengan politik bisnis yang sedang saya hadapi di China….Jadi yang bisa saya pelajari dari A Ming di China adalah mudahnya politik bisnis dengan tujuan yang jelas, jika kita mampu memanage duit, maka mereka akan benar-benar d o it….Namun yang saya pelajari dari A Ming di China dalam mengolah politik bisnis adalah dengan cara do it dan duit….Sangat simple sekali, karena memang di China do it dan duit memang benar-benar menjadi tujuan utama mereka dalam kehidupan…. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: