a Flying Car

Soaring Above Traffic In a Flying Car Sooner Than You Think.
By Chuck Squatriglia December 04, 2007 | 6:49:39 PMCategories: Air Travel, Travel
The flying car has been a dream pursued by inventors since the dawn of aviation and a fantasy long held by commuters wishing they could soar above traffic like George Jetson.

Engineers and eccentrics have patented more than 70 designs since 1918, and even the U.S. government and Henry Ford tried to build flying cars. But success has been elusive, the challenge too great, and such machines have remained the stuff of science fiction.

Until now.

An aeronautical startup called Terrafugia has developed a small airplane called the Transition that it says can take to the sky as easily as the road. It is about the size of a large SUV and features innovative folding wings that collapse with the press of a button. Terrafugia calls it a “personal air vehicle.”

The team behind the Transition still has to design a drivetrain to propel the craft and a mechanism to transfer power from the propeller to the wheels, but it expects to begin flight tests late next year.

Production could begin as early as 2009, and Terrafugia says it’s already received more than 30 orders.

Not long after Henry Ford started building cars and the Wright brothers proved we could fly, an inventor and aviator named Glenn Curtiss built the first flying car in 1917. The Curtiss Autoplane wasn’t much to look at and it barely got off the ground, but it proved that it was possible to merge automobile and airplane into a single machine.

Still, the Autoplane and most of the “roadable” aircraft that followed had the same problem – combining the mechanics of an automobile with those of an airplane created something that didn’t work well as either. It also proved exceedingly difficult to design a machine light enough to fly but robust enough to drive without being blown off the road. There were some that worked – most notably the Airphibian and the original Aerocar, the only flying cars certified by the Federal Aviation Administration – but most were unstable cars and clumsy airplanes.

Advancements in composite materials and metal alloys have addressed many of those problems, and Terrafugia is in a race with several other companies to bring a flying car to market. They include Moller International, Aerocar and Urban Aeronautics.

The Transition isn’t so much a car you can fly but an airplane you can drive, and it is meant to be an alternative to driving for trips between 100 and 500 miles.

“This is not going to replace your Toyota Camry,” company founder Carl Dietrich told the Boston Globe. “You could take it to the store, but it doesn’t have the trunk space of your SUV.”

The preliminary specifications calls for an aircraft 19 feet long and 80 inches wide with the wings folded (the wingspan is 27 feet). It will have a 100-horsepower engine powered by unleaded fuel and a propeller at the rear. The airplane will cruise at 115 mph and have a range of about 460 miles, and it will have room for two people and 550 pounds of cargo. It will weigh 1,320 pounds.

The self-folding wings make the Transition unique, as past flying cars used wings that had to be removed or folded manually. The idea was to make the transition from airplane to automobile as quick and seamless as possible. The design team unveiled the folding wing design in July at the annual AirVenture aviation festival, where they opened and closed the wings more than 500 times without a problem. The wings feature several mechanical and electrical locks to ensure they don’t collapse in flight.

“Going into this, we knew our two biggest design challenges to make it practical would be the wings and the powertrain,” Anna Mracek, an engineer and chief operating officer at Terrafugia, told Technology Review. “By validating the durability of the wing’s construction and engineering, we’ve checked on major design challenge off the list, and now our focus is on the second.”

But the greatest challenge may be getting the Transition certified by the Federal Aviation Administration and the National Highway and Transportation Safety Administration. The aircraft will be classified as a light sport aircraft, and a sport pilot license will be required to fly it. Such licenses generally require less time to obtain than traditional licenses.

Mracek says the company has been working closely with the two agencies “to make working with them as painless as possible” and has made inroads toward certification. The FAA says “the concept of airplanes as personal transportation” is on its radar, so to speak.

Dietrich founded Terrafugia – Latin for “escape from land” – three years ago while still pursuing a doctoral degree in aeronoautical and aerospace engineering at Massachusetts Institute of Technology. He got his pilot’s license at 17, and even as a boy dreamed of building a flying car, and his design for the Transition was among a portfolio of ideas that earned him the prestigious Lemelson-MIT Student Prize last year.

He and the rest of the Terrafugia team believe the time is right for a flying car. They note that there are 5,296 public airports in the United States, and most people are within 20 miles of one. With many of those airports being underutilized and several studies, including the annual Urban Mobility Report, showing traffic congestion getting worse nationwide, Dietrich believes personal air vehicles may be the transportation of the future.

Maybe Henry Ford was right after all when he said in 1940, “Mark my word – a combination airplane and motor car is coming. You may smile, but it will come.”

Memajukan Negeri

 

Memajukan Negeri.

 

Pada hakikatnya manusia itu berada dalam kekurangan dan sudah seharusnya diadakan semangat dan kemauan untuk selalu berubah. Kemauan untuk selalu memperbaiki diri menuju kekeadaan yang lebih baik. Hadis Nabi Muhammada SAW melansir kira-kira demikain, manusia yang tidak membuat dirinya hari ini lebih baik dari kemaren, berusaha membuat dirinya besok lebih baik dari hari ini, adalah orang yang merugi. Merugi disini adalah menuju kehancuran. Ini diadopt oleh managemen modern dengan istilah Continuously improvement.

 

Kemudian Allah SWT telah nyata-nyata berfirman (kira-kira demikian): “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu bangsa, kalau tidak bangsa itu sendiri yang berusaha merubahnya”. Jadi perubahan kepada yang lebih baik, berusaha supaya keadaan yang lebih baik itu adalah kewajiban setiap lapisan masyarakat. Apalagi bagi yang mempunyai amanah, yang diberi kekuasaan supaya mengadakan perubahan. Seyogyanya para birokrat harus menempatkan diri, malah berkewajiban untuk mengadakan perobahan kearah yang lebih baik itu, mereka menerima amanah dan diberikan wewenang untuk itu.

 

Sebetulnya disini adalah kemamuan dari kita masing-masing menempatkan diri, sesuai amanah kehidupan yang diterima masing-masing individu. Sebetulnya ini adalah sudut pandang tentang apa-apa yang seharusnya dilakukan.

 

Untuk mendapatkan apa yang seharusnya dilakukan tersebut adalah kalau telah ditentukan tujuan. Telah ditentukan garis tempat memahat. Misalnya kita mau melakukan perjalanan, sudah barang tentu ditentukan dulu tujuan kemana akan melakukan perjalanan tersebut. Setelah tujuan ditentukan barulah ditentukan atau diambil langkah untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya kendaraan apa yang akan dipakai, berapa orang yang akan melakukan perjalanan bersama sampai berapa lama dapat sampai ditujuan tersebut.

 

Dalam mencapai tujuan ini sudah barang tentu ada aturan atau ketentuan yang disepakati bersama dalam rangka mencapai tujuan. Semua yang berjalan bersama ini, mau tidak mau mengikuti aturan yang telah disepakati bersama. Selanjutnya, semua syarat minimum untuk mencapai tujuan mau tidak mau, suka tidak suka harus dilaksanakan. Kemudian halangan dan hambatan dalam mencapai tujuan ini selayaknya harus dicegah atau paling tidak diminilimalisir akibatnya terhadap pencapaian tujuan.

 

Sekarang, tujuan pembanguan nasional jelas menyatakan: “Mewujudkan negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, aman, (dinamis dan inovatif ) yang berbasis kepentingan nasional” (UU No 17 th 2007).

 

Seluruh komponen bangsa seharusnya mempunayai pamahaman yang sama, mempunyai awareness yang baik terhadap tujuan yang telah digoreskan ini, sehingga bangsa Indonesia dapat keluar dari keterpurukannya saat ini.

 

RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) adalah tuntutan dari UU No. 17 th 2007 ini, Sumatra Barat yang sedang memantapkan RPJPDnya saat ini, seyogyanya disosialisaisikan dengan baik, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat bersama dalam mendukung RPJPD tersebut ditempat dan dengan caranya masing-masing.

 

Kini, pertanyaan besar bagi kita: Apakah warga Minangkabau, terutama yang bermukim di Ranah, telah memahami dan diberi pemahaman untuk maju bersama dalam mewujudkan Sumatra Barat yang Mandiri, maju, kuat, aman dst itu? Siapa yang berkewajiban dalam memberi pemahaman ini? Siapa yang dapat sebagai suri tauladan dalam pemahaman ini? Bak kata wawancara tentang pemahaman perda DKI di TV sore ini, disini banyak orang yang pintar, tapi sulit yang paham.

 

Paham disini adalah menuntut awareness, menuntut mengerti betul tentang tujuan dan langkah mencapai tujuan tersebut. Apalagi dalam mencapai tujuan ini, harus melibatkan seluruh komponen bangsa.

 

Komponen bangsa adalah gubernur/bupati/walikota, dinas perhubungan, dinas pertanian, dinas parawisata, diknas diknas (dan dinas2 lainnya), lapisan birokrat, lapisan teknokrat, lapisan intelektual. Lapisan saudagar, lapisan wiraswastawan, lapisan petani, penyalur dst.

 

Dalam Tujuan Negara kita ada kata mandiri, disini yang paling penting dan utama adalah dibidang properity, dalam bahasa tingginya “lapang iduik”. Kalau kemandirian dalam bidang ekonomi telah tercapai, maka kemandirian lainnya akan mengikutinya.

 

Perlu sekali setiap kita, setiap lapisan masyarakat, baik di rantau apalagi diranah, seharus nya berbahasa sama, sama mengerti untuk maju bersama dalam mencapai kemandirian ini, dalam menuju “hiduik nan labiah lapang”. Setiap usaha yang bertujuan memberikan atau berkontribusi untuk menuju kemandirian ini, sudah selayaknya diciptakan atau diberikan atmosfir yang menarik, dibantu disetiap lapisan terutama di pihak birokrasi rumah gonjong sampai dinagari, apalagi anak nagari itu sendiri. Bukan sebaliknya yang dialami oleh banyak pihak nan mengusahakan investasi didaerah Sumbar. Ataupun yang telah dengan sukarela membuat perputaran uang di ranah meningkat, kok diberikan hambatan-hambatan yang kadang tak dapat diterima dengan logika normal, apalagi logika ekonomi.

 

Sampai-sampai bapakku, Dr. Saafroedin Bahar menulis kekecewaannya terhadap kondisi saat kini sbb: …………” secara pribadi saya bertanya, apakah tidak akan semakin memalukan Minangkabau jika kita mendorong para wisatawan ke Sumatera Barat yang masih dalam demikian keadaannya?

Saya belum dapat menjawab pertanyaan ini dan saya mengharap masukan dari para sanak sa palanta pada umumnya dan jajaran MAPPAS pada khususnya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

Sekiranya terhadap masalah tersebut di atas belum juga diperoleh ketegasan kebijakan dan langkah yang konkrit oleh fihak yang berwenang di Ranah sendiri, dan menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu hal yang sudah biasa saja, dengan sangat menyesal saya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari tugas`saya di MAPPAS ini”.

Ingin juga rasanya penulis mengutip rangkaian kata di USCG (US Coast Guard):

“The creation of an effective National Preparedness System will require the Federal government to transform the way it does business. The most important objective of this Federal transformation will be to build and integrate operational capability. Each Federal department or agency…needs operational capability—or the capacity to get things done—to translate executive management direction promptly into results on the ground.”

Kata kunci dari kedua kutipan diatas adalah perbaikan atas awareness dan preparedness dari lapisan yang berkompeten untuk mengadakan perbaikan berkelanjutan. Sehingga dapat bersama maju bersama. “Kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun, sadanciang bak basi saciok bak ayam” sama dipahami (aware) sama disiapkan (prepared) untuk dapat melayari gelombang laut samudra dalam berlayar ke pulau “tujuan” ….. mandiri.

Salam

Darul M. St. Parapatiah

« Halaman Sebelumnya