Arsip untuk April 20th, 2008|Halaman arsip harian

Adib in Politics

(Serbuan politik bisnis, politik office, politik praktis sampai politik milist)
Para profesional dan level manager sering dihadapkan pada pusingnya bagaimana menghadapi politik office yang berlaku di kantor, sehingga dalam sebuah meeting formal maupun informal sering sekali menguras energi dalam menghadapi serbuan politik office ketimbang menguras energi untuk brainstorming dalam menghadapi masalah yang sebenarnya.

Demikian juga dalam dunia bisnis, kita juga dihadapkan pada politik bisnis yang sedemikian kompleksnya, tidak kalah ribet dengan politik praktis yang berasaskan teori kepentingan. Namun yang saya pelajari dari A Ming di China dalam mengolah politik bisnis adalah dengan cara do it dan duit. Sangat simple sekali, karena memang di China do it dan duit memang benar-benar menjadi tujuan utama mereka dalam kehidupan.

Sehingga tidak ada basa-basi, tidak melibatkan rasa gengsi, dan menghalus-haluskan situasi dan kondisi yang sebenarnya tujuan akhirnya adalah UUD (ujung-ujungnya duit). Yang saya tangkap tujuan hidup A Ming dan sebagian besar orang China itu jelas bahwa hidup untuk bisa senang harus cari duit dan do it.

Sedangkan kita dihadapkan pada persoalan mind set yang lumayan rumit, sehingga dalam berbisnispun tujuan kita njlimet, basa-basi, dan menghalus-haluskan situasi dan kondisi, yang sebenarnya UUD juga (ujung-ujungnya duit), masih mending kalau do it kita bagus, malah kadang do it kita juga kurang optimal.

Wajarlah jika politik bisnis kita tidak jauh beda dengan dunia politik praktis, karena hampir rata-rata mind set kita juga berasal dari sumber yang sama, penuh basa-basi dan mempolitisir situasi dan keadaan. Rakyat miskin selalu menjadi ajang komoditas politik praktis ketika sedang terjadi pemilu, tiba-tiba tokohnya menjadi merakyat dan manis dengan rakyat, namun ketika sudah duduk di kursi empuk semuanya menjadi hilang ingatan terhadap apa yang dijanjikan sewaktu pemilu.

Jadi yang bisa saya pelajari dari A Ming di China adalah mudahnya politik bisnis dengan tujuan yang jelas, jika kita mampu memanage duit, maka mereka akan benar-benar do it. Sebab prinsip bisnis is bisnis berlaku dalam politik bisnis, seperti prinsip kepentingan juga berlaku dalam dunia politik praktis.

Hal kedua yang bisa saya pelajari dari A Ming adalah bahwa saya harus hati-hati dengan para broker dan reseller di China, karena di China banyak sekali broker dan reseller yang mengaku-aku sebagai owner pabrik, owner produk dan owner perusahaan. Untuk pelajaran kedua ini sih saya sudah terbiasa menghadapinya di Indonesia, karena saya sudah pernah diajarin juga di sebuah kelas seminar bisnis di Indonesia agar sukses menjadi broker dan reseller dengan mensiasati properti orang lain, duit orang lain, ruko orang lain, produk orang lain dan perusahaan orang lain, sehingga saya tidak kaget dengan politik bisnis yang sedang saya hadapi di China.

Dan dalam dunia milistpun berlaku politik milist, dalam tulisan-tulisannya politik milist yang saya maksud adalah, ada penulis yang mempolitisir situasi dan keadaan, ada yang basa-basi, ada yang malu-malu, ada yang oportunis dan ada yang idealisme. Ada penulis yang mempolitisir tulisannya dengan bungkus yang sedemikian rapi dan halus, sehingga ada member milist yang membaca tidak sadar kalau sedang masuk perangkap atau memang sengaja masuk perangkapnya, setelah benar-benar terjerat barulah digelar dagangannya.

Betapa kita setiap hari selalu dihadapkan pada politik office, politik bisnis, politik praktis dan politik milist yang sedemikian canggihnya dengan cara yang tepat dalam mengkomunikasikannya, lalu akankah kita akan selalu begitu..?, dihadapkan pada ribetnya menghadapi politik-politik tersebut. Padahal kita masih kurang do it dalam mencari duit, karena kita terjebak dalam permainan politik, bukan bermain dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Mudah-mudahan pribadi dan milist yang populis akan tetap duduk lesehan dipelataran kesederhanaan (mampu menjaga core values dan core purposenya), ditengah gencarnya media yang manis mempromosikan personal brand dan milist, yang akhirnya personal dan milist tersebut menjadi elitis duduk di kursi empuk menikmati kemenangan permainan politiknya.

Dan mudah-mudahan kita semakin sadar bahwa bisnis is bisnis yang membutuhkan do it dan duit, sehingga kita betul-betul mempunyai kesadaran bahwa duit dan do it hanyalah sebagai alat yang jelas untuk mencapai tujuan dan kita terbebas dari politik-politik yang dikemas dengan cara yang tepat, saat yang tepat dan disampaikan kepada orang yang tepat.

Salam,

Adib M

China, MEMANFAATKAN PELUANG EKONOMI NEGERI PANDA

From: Munif Prasojo

MEMANFAATKAN PELUANG EKONOMI NEGERI PANDA

Di Tiongkok lima belas tahun lalu, telepon rumah masih menjadi barang mewah. Sehingga, bila ada keluarga memasang sambungan telepon di rumah, dapat dipastikan bahwa keluarga itu keluarga kaya. Di negeri ini, lima belas tahun lalu, orang antri untuk mendapatkan selembar kupon makan. Lima belas tahun lalu, orang bepergian menempuh jarak beberapa ratus kilometer perlu waktu beberapa hari, karena kondisi jalan yang buruk dan jembatan yang tak layak. Bahkan tidak jarang jembatan rusak, sehingga kendaraan terpaksa turun ke kali atau ambil jalan memutar. Di Tiongkok dua atau tiga tahun lalu, orang masih meludah dan buang air sembarangan. Bahkan seorang da laoban (big bos) tak sungkan-sungkan buang ludah di lobby hotel bintang lima yang lantainya berlapis karpet mewah.

Itu terjadi kira-kira lima belas tahun lalu. Tapi coba simak sekarang. Hampir semua orang kesana kemari menenteng handphone keluaran terbaru. Telepon rumah menjadi hal yang lumrah. Sekarang, di seantero pelosok negeri, dengan mudah dapat dijumpai warung atau rumah makan yang menyajikan masakan sedap, khas Tiongkok. Tak ada lagi antrian manusia menunggu pembagian kupon makan.

Saat ini, seluruh kota di Tiongkok telah dihubungkan dengan jalan-jalan tol mulus, membentang ribuan kilometer membelah negeri Panda ini, menembus wilayah pedalaman. Bandara tumbuh cepat. Angkutan masal, mulai bus antar kota, kereta api siap mengantar Anda kemana anda suka. Di dalam kota, Anda tak perlu repot membeli mobil dan capek menyetir, karena sistem transportasi dalam kota cukup bagus. Bus kota bersih, taksi tinggal pilih, dan setiap tiga menit sekali, subway datang silih berganti, siap mengantar ke manapun Anda pergi.

Itu semua berkat kerja keras Pemerintah dan warga Tiongkok, yang dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonominya sangat fantastis, rata-rata lebih dari 10% per tahun. Dengan pertumbuhan ekonomi yang melaju pesat itu, Tiongkok telah tumbuh menjadi raksasa ekonomi nomor tiga dunia. Apalagi? Ekonomi Tiongkok diperkirakan tidak lama lagi akan menjadi nomor dua di dunia. Indonesia yang sebenarnya telah lebih dulu mujur dengan perekonomian terbuka yang menyambut dengan tangan lebar investasi asing, kini harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketinggalan. Untuk mengejar ketinggalan itu, Indonesia dapat menoleh ke Tiongkok, menengok potensi dan peluang yang dimiliki negeri ini untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

Sekedar untuk memberikan gambaran ringkas mengenai perekonomian Tiongkok, khususnya bagian Selatan yang meliputi 4 Propinsi, yaitu Propinsi Guangdong, Fujian, Guangxi dan Hainan, berikut ini disampaikan profil ringkasnya. Harapannya, tulisan ini mampu memberi inspirasi bagi berbagai pihak, baik sektor Pemerintah maupun swasta untuk menjalin hubungan perdagangan dan investasi yang lebih erat dengan negeri Panda. Semoga!

Propinsi Guangdong

Coba Anda tengok Propinsi terkaya di Tiongkok yang sering disebut dengan “Power House” nya ekonomi Tiongkok, yaitu Propinsi Guangdong. Propinsi dengan luas wilayah daratan 179.576 km2, (atau 1,9% dari luas RRT), dan jumlah penduduk permanen mencapai 93 juta, namun daya beli mereka yang tertinggi di RRT.

Tahun 2007, GDP Propinsi ini mencapai US$ 431 milyar – merupakan 1/8 GDP nasional RRT. Untuk tingkat Propinsi, pendapatan per kapita penduduk Guangdong merupakan salah satu yang tertinggi, sekitar US$ 4.000. Tentu saja wajar, apabila pendapatan per kapita tersebut tidak tersebar merata. Konsentrasi pendapatan tertinggi umumnya tersebar di kota-kota besar, sebut saja kota Beijing, Shanghai, Chongqing, Guangzhou atau kota Shenzhen. Penduduk kota Guangzhou – dulu disebut Canton – akhir tahun 2007 lalu pendapatan mereka mendekati US$ 10.000 per tahun.

Tidak kalah dengan kota Guangzhou, di kota Shenzhen, pandapatan per kapita penduduk yang berbatasan lansgung dengan Hongkong tersebut pada akhir tahun 2007 sudah lebih dari US$ 10.000. Tak heran, jika potensi wilayah yang terletak di bagian selatan RRT ini sebagai sumber wisatawan untuk Indonesia cukup menjanjikan. Bayangkan, dengan penduduk permanen 93 juta, dan seandainya 10% dari jumlah penduduk itu berpendapatan US$ 10.000 atau lebih, maka potensi wisatawan asal daerah yang sering disebut dengan “The Power House of China Economy” ini, 9,3 juta jiwa. Angka yang cukup fantastis!

Sebagai economy power house RRT, Guangdong membutuhkan semua bahan baku produksi untuk industri manufaktur mereka yang sudah berkembang. Eksportir Indonesia bisa memasok alat dan perkakas listrik, permesinan, bahan bakar mineral, optik, biji besi, slag, ash, plastik, kimia organik, tembaga, besi dan baja dan kendaraan non kereta api.

Bakat dan keahlian orang Canton dalam berdagang nampaknya menjadi mesin penggerak perekonomian Propinsi terkaya di Tiongkok ini. Tengok data-data ini: nilai perdagangan mencapai US$ 634 milyar, dengan nilai ekspor US$ 369,25 milyar. Ekspor Guangdong termasuk produk elektronik, mesin, tekstil dan garmen serta mainan anak-anak.

Propinsi ini juga kaya pengalaman di bidang pembangunan infrastruktur, manufaktur bahan-bahan baku industri dan pengolahan sumber daya alam. Kekayaan pengalaman Guangdong di bidang pembangunan infrastruktur ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia, sekaligus menarik modal mereka yang banyak menganggur untuk dibenamkan di Indonesia.

Propinsi Fujian

Fujian, berada di pantai timur RRT. Dengan luas wilayah 121.400 km2 dan garis pantai memanjang 3.324 km, Propinsi ini kaya akan hasil laut. Akhir-akhir ini Fujian terus menggenjot pembangunan infratstruktur dan perdagangan dengan berbagai belahan dunia. Sejumlah event akbar tahunan digelar di Fujian, misalnya CIFIT (China International Fair for Investment and Trade) digelar setiap bulan September/Oktober di kota Xiamen; dan Cross Strait Fair yang biasanya memamerkan produk-produk Taiwan, diselenggarakan setiap tahun pada kuartal kedua di kota Fuzhou. Meskipun sejatinya – sesuai dengan namanya – Cross Strait Fair ditujukan untuk memamerkan produk-produk lokal Fujian dan Taiwan, namun makin lama makin banyak peserta dari manca negara yang menhikuti pameran ini.

Dengan GDP US$ 126,8 milyar, dan penduduk 35,6 juta jiwa, Propinsi Fujian berhasil menggenjot pendapatan per kapita penduduknya, sehingga pada akhir tahun 2007 pendapatan per kapita warga Fujian telah mencapai US$ 3.621 per tahun, jauh melampaui pendapatan perkapita rata-rata RRT sebesar US$ 2.638 per tahun.

Sementara itu, nilai perdagangan Fujian mencapai US$ 72 milyar, dimana US$ 48 milyar diantaranya nilai ekspor. Produk utama Fujian adalah makanan olahan, garmen, tekstil, kerajinan tangan, elektronik, mineral dan pertanian. Sedangkan impornya adalah alat-alat listrik, permesinan, optik, bahan bakar mineral, plastik, biji besi, slag, ash, pesawat terbang, biji-bijian, buah-buahan, besi dan baja.

Industri manufaktur dan pengolahan ikan Fujian cukup maju, sehingga Indonesia bisa melirik Fujian sebagai salah satu sumber investornya. Kedekatan hubungan emosional antara Indonesia dan Propinsi Fujian – Fujian selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dari mana WNI berasal – dan menumpuknya modal di Fujian, dapat menjadi salah satu pilihan alternative sumber investor untuk Indonesia.

Wilayah Otonomi Khusus Guangxi-Zhuang

Diantara ke empat wilayah kerja KJRI Guangzhou, Propinsi Guangxi, yang nama resminya Guangxi – Zhuang Autonomous Region, memiliki wilayah paling luas. Penduduk sebanyak 47.2 juta jiwa, menghuni wilayah seluas 236.661 km2 yang kaya hasil pertanian. Tak heran bila Propinsi Guangxi merupakan gudang gula tebu dan salah satu pusat industri pengolahan makanan di RRT.

Di Propinsi inilah setiap tahun diselenggarakan China – ASEAN Exposition (CA-EXPO) yang biasanya diselenggarakan pada awal Oktober. Tak heran, karena Pemerintah RRT memang menetapkan Guangxi sebagai pintu gerbang hubungan antara RRT dan negara-negara ASEAN. Itu karena Propinsi Guangxi berada di Tiongkok barat daya, dan berbatasan langsung dengan Vietnam.

Selain industri gula tebu dan pengolahan pangan, Guangxi juga merupakan salah satu pusat industri metal, otomobil dan permesinan. Tahun 2007 yang lalu, nilai perdagangan Guangxi mencapai US$ 42 milyar, dimana US$ 34,7 milyar diantaranya adalah nilai ekspor; dengan pendapatan per kapita US$ 1.700 per tahun. Tahun 2007 lalu, GDP Guangxi mencapai US$ 82,6 milyar; dengan pendapatan per kapita mencapai US$ 1.700 per tahun.

Bagi importir Indonesia, peluang untuk mendatangkan barang dari Propinsi Guangxi cukup terbuka; khususnya besi, baja, pupuk, kimia non-organik, mesin, kendaraan dan elektronik; sedangkan impornya meliputi biji besi, slag, ash, bahan bakar mineral, perkakas mesin, garam, belerang, batu, tembaga, kimia organik, minyak, kayu dan perkakas listrik.

Guangxi yang kaya pengalaman di bidang industri pertanian, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi Indonesia untuk mengundang calon investor dari Guangxi.

Propinsi Hainan

Propinsi Hainan berada di Tiongkok bagian selatan. Karena letaknya di selatan, tak heran bila iklim di wilayah ini mirip dengan iklim di Indonesia, yang dicirikan dengan tumbuh suburnya tanaman nyiur, pisang dan sayur mayur. Hainan, sesungguhnya adalah sebuah pulau di selatan Tiongkok, yang sebelum berdiri sendiri sebagai Propinsi, adalah bagian dari Propinsi Guangdong.

Dibandingkan dengan jumlah penduduk propinsi lain di RRT, penduduk di Propinsi muda ini relatif sedikit, sekitar 8,4 juta saja; bahkan tidak sampai menyamai jumlah penduduk kota Guangzhou yang jumlahnya 10 juta lebih. Dengan luas wilayah 35.300 km2, dan panjang garis pantai 1.528 km, GDP Hainan pada tahun 2007 lalu mencapai 17,3 milyar, dan pendapatan per kapita sebesar US$ 1.882 per tahun. Propinsi ini juga kaya akan hasil laut untuk memasok kebutuhan dalam negeri RRT.

Letaknya yang berada di iklim tropis, dengan udara yang hangat sepanjang tahun, menyebabkan wilayah ini cocok sebagai pusat pariwisata di RRT. Tak heran, setiap musim dingin, jutaan turis dari negeri bermusim dingin seperti Finlandia, Russia dan sejumah negara lain menjadikan Pulau Hainan sebagai salah satu tujuan favorit wisata mereka di musim dingin.

Selain industri pariwisata, di Propinsi Hainan industri-industri di bidang pertanian, petrokimia, elektronik, informasi, serta bio-farmasi terbilang cukup maju. Pada tahun 2007, dengan ditopang oleh industri yang dimiliknya, nilai perdagangan Hainan mencapai US$ 6,6 milyar, dimana 1,5 milyar diantaranya adalah ekspor.

Sejauh ini, ekspor Hainan terutama adalah komoditas perikanan, telekomunikasi, manufaktur dan hasil pertanian; sedangkan impor Hainan meliputi bahan bakar mineral, pesawat terbang, perkakas mesin, besi dan baja, kayu, produk-produk farmasi, kimia organik, kendaraan non kereta api, biji besi, slag, ash dan minyak.

Indonesia dapat mencoba menarik investor dari Hainan yang potensial di bidang pengolahan sumber daya alam, terutama perikanan.

Harimawan Sujitno
Konsul Jenderal